Posts Tagged ‘refleksi’

Hanya Ekstase Kata

Kenapa kau… bisa begitu bahagia?
Karena… seburuk apapun, aku memutuskan untuk mencintai hidupku apa adanya.

Andai aku tak pernah tahu akan hal itu.
Apa kau yakin, dengan begitu hidupmu akan lebih baik?

Ah, aku lelah.
Memang apa yang telah kau lakukan?

Izinkan aku menghilang sejenak.
Silakan. Selalu akan ada yang bersedia menggantikan posisimu. Tapi kau, akankah ada yang bersedia memberimu kesempatan lagi?

Belum pernah aku begitu membenci seseorang sampai seperti ini sebelumnya.
Ah kau, memangnya, tentang benci, kau tahu apa?

Kenapa kau bersedia tetap berada di balik bayang-bayang?
Karena memberikan yang terbaik, bukan berarti harus menjadi yang ’terbaik’, kan?

Karena mutiara, bahkan di dalam lumpur, tetaplah mutiara…

Yogyakarta,
10 Maret 2010
00.10

(Lagi-Lagi) Tentang Pilihan

Membaca notes seorang teman, dan ah, lagi-lagi aku terpikir tentang pilihan.

Lagi dan lagi. Hidup manusia memang penuh dengan pilihan. Pilihan yang diambil dalam sadar maupun tanpa sadar. Pilihan besar yang mempengaruhi kehidupan ataupun pilihan kecil yang mungkin tak terlihat seperti pilihan. Manusia memang akan selalu berkawan dengan pilihan.

Dalam setiap detak kehidupan, selalu ada pilihan. Memilih untuk tidak memilih, itu pilihan. Bahkan ketika tampaknya tak ada lagi pilihan, memilih untuk menolak menyerah terhadap ketiadaan pilihan, bahkan itu juga pilihan. Selama nadi masih berdenyut, selama itu pula pilihan akan selalu ada.

Di hadapan setiap manusia, akan selalu terbentang banyak jalan. Ada jalan benderang yang menampilkan jelas apa yang ada di seberangnya. Ada jalan belantara yang gulita, meski samar di ujungnya terlihat cahaya. Ada jalan mulus beraspal, ada jalan tanah setapak, ada pula jalan belukar yang kelihatannya tak pernah dilalui manusia. Menentukan jalan mana yang akan dilalui itu pilihan, dan aku masih senantiasa bersiteguh, memilih sendiri jalanku.

Bukan berarti aku begitu percaya diri, begitu yakin dengan pilihanku. Bukan begitu. Hanya saja, ini jalanku. Jalan yang akan kulalui, jalan yang aku bertanggung jawab sepenuhnya tentangnya. Dan setiap diri akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing. Bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada sesuatu yang diputuskan orang lain untukku?

Di antara harap dan cemas, selalu dan selalu, aku berdoa agar pilihan yang kuambil -apapun itu- memang yang terbaik…

Yogyakarta,
15 Februari 2010

Tentang Perjalanan, dan Pergerakan

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jik mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa saat masih di dalam hutan

-Imam Syafi’i-

dikutip dari buku Negeri 5 Menara, dengan sedikit perubahan

Siapa yang Harus Didahulukan?

Ada cerita bagus nih, dari note di Facebook seorang teman.

***

Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab:

“Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian bis satu-satunya di daerah itu. Di perhentian bis itu, Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan bis:
* seorang nenek tua yang sekarat
* seorang dokter yang pernah menyelematkan hidup Anda sebelumnya
* seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda
temukan.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk membonceng Anda. Siapakah yang akan Anda ajak? Dan, jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu!”

Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:
*Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalau dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup ke depannya masih panjang.

*Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya. api, kalau dipikir, kalau sekadar membalas budi bisa lain waktu kan? Namun, kita tidak pernah tahu kapan kita akan mendapatkan kesempatan itu lagi.

*Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan, impian Anda akan kandas selamanya. Jadi yang mana yang Anda pilih?

Dari sekitar 2000 orang pelamar, hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat:

Continue reading