Posts Tagged ‘cerita’

Tentang Orang yang Padanya Disematkan Titel Ayah

Seperti halnya legenda yang tidak bisa lagi dilacak siapa pemulanya, begitu pula tulisan copas-an ini dan banyak tulisan-tulisan inspiratif lain yang beredar di ranah tanpa batas bernama internet ini. Maka, tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun yang membuat tulisan ini, juga untuk menghindari tuduhan plagiasi, kita sebut saja sumbernya anonim.

Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah lebih dari lima kali saya membaca tulisan ini, dari berbagai blog atau notes orang-orang yang terserak di dunia maya. Namun tetap saja, setiap kali saya selalu trenyuh dan berkaca-kaca saat membacanya. Bagi yang sudah pernah membacanya, saya rasa tak ada ruginya dibaca ulang. Bagi yang belum pernah, maka bacalah. Ah, saya sudah terlalu banyak basa-basi sepertinya. Langsung saja.

*****

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas :
Continue reading

Siapa yang Harus Didahulukan?

Ada cerita bagus nih, dari note di Facebook seorang teman.

***

Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab:

“Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian bis satu-satunya di daerah itu. Di perhentian bis itu, Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan bis:
* seorang nenek tua yang sekarat
* seorang dokter yang pernah menyelematkan hidup Anda sebelumnya
* seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda
temukan.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk membonceng Anda. Siapakah yang akan Anda ajak? Dan, jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu!”

Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:
*Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalau dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup ke depannya masih panjang.

*Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya. api, kalau dipikir, kalau sekadar membalas budi bisa lain waktu kan? Namun, kita tidak pernah tahu kapan kita akan mendapatkan kesempatan itu lagi.

*Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan, impian Anda akan kandas selamanya. Jadi yang mana yang Anda pilih?

Dari sekitar 2000 orang pelamar, hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat:

Continue reading

SMS Menyebalkan

Akhir-akhir ini, aku sering mengabaikan SMS dari beberapa nomor tertentu. Maaf saja, tapi aku sangat tidak suka SMS yang diakhiri dengan kata ‘bales’ dan sejenisnya. Apalagi kalau ditambah menjadi ‘bales kilat’, ‘bales ASAP’ dan sebagainya. Apalagi kalau misalnya tidak kubalas, lalu dia kirim lagi SMS yang sama, berkali-kali. Huh, itu menyebalkan, tahu.

Memangnya dia pikir kerjaanku hanya membalas SMS dia saja? Memangnya dia pikir aku selalu ada pulsa setiap saat? Atau kalaupun ada pulsa, memangnya dia pikir SMS dia –yang terkadang tidak penting itu– cukup berharga untuk dibalas secepatnya? Benar-benar menyebalkan.

Yeah, kalimat minta balasan itu sungguh membuatku kehilangan minat untuk membalas SMS-nya. Seharusnya ya sudah, tunggu saja dibalas, tidak usah ngotot seperti itu. Kalau memang itu penting sekali –bagi dia–, ada kan cara lain yang lebih cepat dan tak perlu repot minta balasan, namanya T E L E P O N.

Ah, kok aku jadi nyinyir begini. Maaf ya, habis sebal.

Catatan UAN, 20-24 April 2009

Pra

‘Gubernur Jamin Tak Ada Kebocoran Soal’
Judul berita di sebuah koran itu membuatku tersenyum sinis, mendadak mual dan ingin meludah. Omong kosong. Sementara di sana gubernur itu berkata yakin, baru saja tadi seorang teman bercerita padaku tentang teman-teman sekolahku yang berencana patungan beli soal. Empat juta rupiah, dan uang bisa kembali bila tidak lulus UAN. Gila.

“Kalo temennya nanya, jangan pelit, kasih tau.”
Kalimat itu tepat bila diucapkan pada sesi belajar kelompok ataupun ketika sedang mengerjakan tugas. Namun, ketika ditujukan untuk ujian, apalagi sekelas UAN, kalimat itu adalah pembodohan yang menyesatkan. Dan tebak, siapa yang mengatakan kalimat seperti itu? Murid yang tidak percaya diri dengan kemampuannya? Sayangnya bukan. Kalimat itu keluar dari mulut seorang guru. Jadi, apa yang bisa ‘digugu’ dan ‘ditiru’ dari guru yang berkata seperti itu?

Hari Pertama

Aku menatap pasrah soal-soal biologi yang sedang kukerjakan. Susah. Tipe soalnya berbeda dengan tipe-tipe soal try out dan soal UAN tahun-tahun sebelumnya. Ya sudahlah, SKL biologi memang terlalu luas, tidak terprediksi. Setelah sebelumnya lega karena Bahasa Indonesia, sekarang aku sedikit dibuat cemas oleh Biologi.

“Motto kita: 5.5 atau 10 sama saja.”
Ucapan itu ramai di sekolah selepas ujian biologi tadi. Aku tersenyum kecut, sedikit getir. Pernyataan itu memang benar. Toh, yang penting lulus. Tidak seperti nilai UAN SMP yang digunakan untuk masuk SMA –Jakarta–, nilai UAN SMA tidak berpengaruh pada penerimaan ke perguruan tinggi negeri. Yang penting lulus, dan baik nilai 5.5 atau 10 memang sama-sama lulus.

Continue reading

Golput, Benar-Benar Mencoblos Putih

Popularitas golput mendekati Pemilu Legislatif 2009 terus meroket. Banyak faktor penyebabnya, tapi aku tidak ingin membahas hal tersebut dalam tulisan kali ini. Tulisan ini akan menceritakan sejarah singkat dan asal-usul nama golput.

Meski wacana golput semakin sering didengungkan, tidak banyak yang mengetahui latar belakang kemunculannya. Begitu pun aku, sampai ujian praktik –kata yang baku praktik, bukan praktek– bahasa Indonesia beberapa waktu lalu. Tema yang kupilih untuk ujian praktik tersebut adalah golput. Pilihan tema itulah yang membuatku menelusuri dan akhirnya mengetahui cerita di balik golput.

Continue reading

Harapan dalam Kotak Pandora

Alkisah, ada seorang wanita bernama Pandora, yang dikirim ke bumi oleh para dewa. Zeus, sang petinggi dewa, membekalinya sebuah kotak keramat, dengan sedikit pesan: kotak itu sama sekali tidak boleh dibuka.

Memang apa isi kotak itu? Sebegitu rahasianyakah sampai diintip pun tak boleh?

Pandora rupanya tak mampu melawan rasa penasaran. Mengabaikan larangan Zeus, Pandora membuka kotak tersebut. Ternyata kotak itu berisi segala macam keburukan, yang langsung berhamburan keluar begitu Pandora membukanya. Sejak saat itu, bumi mengenal yang namanya penyakit, wabah, kesedihan, keputusasaan, perang, kekejaman, dan segala penderitaan lainnya.

Untungnya, cerita belum berakhir.

Continue reading