Negara Kelima, Era Post-Modernisme Kah?

Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika Para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun.

Negara Kelima, oleh E.S. Ito. Itu adalah salah satu novel yang saya baca saat duduk di bangku sekolah menengah atas, saat saya sedang gandrung-gandrungnya dengan novel thriller-aksi-misteri-teka-teki seperti itu, terutama yang berkaitan dengan sejarah. Genre novel seperti itu selalu kaya, selalu membuat saya merasa mendapat lebih dari sekedar bacaan. Jenis bacaan yang selalu berhasil memaksa saya dengan rela hati mengorbankan waktu tidur demi menuntaskan rasa penasaran dan sesudahnya tercenung sendiri berdialektika dengan pikiran.

Ah, jadi melenceng ke mana-mana. Bukan, sebenarnya saya bukan ingin mengulas novel ini. Bukan pula ingin membahas genre thriller-aksi-misteri-teka-teki yang membuat saya kecanduan itu. Bukan.

Hidup memang bagai kepingan-kepingan yang terserak tanpa terbatas ruang dan masa. Entah bagaimana, beberapa hari yang lalu saya menemukan dan membaca lagi kutipan paragraf di atas dalam notes orang yang bahkan sama sekali tidak saya kenal. Dan entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang wajah dosen pembimbing akademik saya, Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., yang kata anak-anak arkeo ganteng itu. Oh, usut punya usut, ternyata untaian kalimat (nyaris) puitis itu mengingatkan saya pada satu materi dari salah satu mata kuliah yang diampu beliau. The end of globalization, era post-modernisme.

Negara kelima adalah kebangkitan masa silam.

Di masa akhir globalisasi, religi dan etnisitas menjadi sumber pencarian identitas baru. Orang-orang kembali pada nilai-nilai budaya tradisional. Kepercayaan masa lampau kembali menguat. (mengutip dari catatan Dasar-Dasar Ilmu Budaya)

Sounds similar, hm?

Saya agak lupa apa persisnya negara kelima yang dimaksud di dalam novel tersebut. Tapi membaca deskripsi negara kelima dalam paragraf di atas sekarang, saat saya sudah mempelajari materi post-modernisme, rasa-rasanya otak saya mulai menghubungkan kedua hal itu.

Post-modernisme merupakan respon balik untuk modernisasi, yang dilandasi pemikiran kritis terhadap kondisi atau pencapaian gerakan modernisme, muncul menjelang keruntuhan era globalisasi. Berlawanan dengan prinsip globalisasi yang melebur batas-batas wilayah dan budaya, orang-orang mulai beralih pada isu regionalisasi. Post-modernisme menolak penyeragaman yang diusung oleh modernisme. Terjadi keresahan dan kekacauan sosial, yang kemudian diikuti oleh penataan struktur sosial dan penciptaan budaya baru. Tatanan dunia baru membutuhkan identitas baru. Dan yang disasar dalam pembentukan identitas baru itu adalah nilai-nilai dan warisan budaya lama (tradisional).

Negara kelima adalah kebangkitan masa silam, dan era post-modernisme adalah saat nilai-nilai masa lampau kembali menguat. Maka saya kembali bertanya-tanya. Negara kelima, era post-modernisme kah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: