Menikmati Perjalanan

Saya pernah beberapa kali mengajak beberapa teman untuk berjalan-jalan ke suatu tempat, dan ditanggapi dengan skeptis seperti ini:
“Ah, emang nanti di sana mau ngapain?”
“Ya jalan-jalan, foto-foto.”
“Males ah, udah capek-capek sampe sana cuma foto-foto doang.”

Pernah juga suatu kali saya dan beberapa orang teman melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan ke suatu tempat. Sampai di sana, salah seorang dari mereka hanya berkomentar, “Cuma begini doang? Ah sia-sia amat perjalanan susah-susah cuma kayak gini aja.”

Oh boi, saya langsung berpikir, sepertinya saya mengajak orang yang salah.

Bagi saya, jalan-jalan bukan hanya sekedar sampai ke tempat tujuan, melakukan suatu kegiatan di sana, lalu pulang. Jalan-jalan bagi saya adalah keseluruhan cerita, mulai dari perjalanan berangkat, di tempat tujuan, dan perjalanan pulang. Bahkan terkadang, saat saya begitu menikmati suatu perjalanan, destinasi tak lagi menjadi soal.

Selalu ada kenikmatan tersendiri dalam perjalanan. Saya menikmati belaian angin yang menyelusup dari bukaan jendela kendaraan. Saya menikmati pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan, juga berbagai fenomena sosial yang tertangkap begitu saja oleh kedua mata saya dalam perjalanan. Saya menikmati sensasi perjalanan yang berkelok naik-turun, kadang mulus meski sering juga melewati jalan rusak atau berbatu. Saya menikmati saat-saat berdiri dalam bus, menikmati saat-saat menanti kondektur dengan tegang sambil bertanya-tanya seberapa mahal ongkosnya. Saya menikmati derap langkah yang mulai tertatih kelelahan, dan kenikmatan luar biasa saat bisa istirahat sejenak. Saya menikmati sengatan matahari yang seolah membakar ubun-ubun kepala, dan saat-saat menenggak beberapa tetes air yang serasa mata air dari surga. Saya menikmati saat gairah petualang membanjiri sekujur tubuh, mengalir deras di urat saraf dan pembuluh darah. Saya menikmati berbagai cerita yang terjadi dalam perjalanan.

Selalu ada cerita dalam perjalanan. Ada cerita tentang menumpang mobil orang tak dikenal karena kehabisan kendaraan umum. Ada cerita tentang meminjam handphone dan meminta pulsa orang asing yang duduk di sebelah saya karena terjebak macet dan hujan malam-malam di tengah belantara ibukota sedang handphone saya mati habis baterai, padahal saya belum memberi kabar pada orang rumah. Ada cerita tentang kabur begitu saja dari angkot karena melihat abangnya tonjok-tonjokan dengan abang angkot lain seperti di sinetron, lalu dikejar sang abang angkot karena belum bayar. Ada cerita tentang berjalan kaki dari pintu masuk Kawah Putih sampai atas, menjadi tontonan dan diselamati orang-orang begitu tiba di atas, karena sebelumnya tak ada orang yang mau berjalan kaki naik begitu, penduduk asli sekalipun.

Tak hanya cerita heboh, konyol dan nekat, dalam perjalanan juga selalu ada cerita lainnya, jenis cerita yang mengagumkan tentang kekompakan, kerja sama, dan bahu-membahu saling menjaga. Selalu ada cerita tentang kepedulian, saat harus menekan ego pribadi demi kepentingan bersama. Selalu ada cerita tentang pahit-manis yang dibagi bersama. Dan tentu saja, selalu ada cerita tentang kenangan yang tak terlupakan.

Perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Mengembalikan gairah hidup yang mungkin sempat menghilang, menyelamatkan saya dari rutinitas yang mematikan. Memberi saya beragam pengalaman menakjubkan. Yang semanis madu, yang sepahit kopi, yang sekecut limau, yang seasin garam, yang sepedas cabai, semuanya ada. Ah, saya benar-benar menikmati perjalanan. Man, traveling is not just about destination, but also the journey itself!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: