Catatan UAN, 20-24 April 2009

Pra

‘Gubernur Jamin Tak Ada Kebocoran Soal’
Judul berita di sebuah koran itu membuatku tersenyum sinis, mendadak mual dan ingin meludah. Omong kosong. Sementara di sana gubernur itu berkata yakin, baru saja tadi seorang teman bercerita padaku tentang teman-teman sekolahku yang berencana patungan beli soal. Empat juta rupiah, dan uang bisa kembali bila tidak lulus UAN. Gila.

“Kalo temennya nanya, jangan pelit, kasih tau.”
Kalimat itu tepat bila diucapkan pada sesi belajar kelompok ataupun ketika sedang mengerjakan tugas. Namun, ketika ditujukan untuk ujian, apalagi sekelas UAN, kalimat itu adalah pembodohan yang menyesatkan. Dan tebak, siapa yang mengatakan kalimat seperti itu? Murid yang tidak percaya diri dengan kemampuannya? Sayangnya bukan. Kalimat itu keluar dari mulut seorang guru. Jadi, apa yang bisa ‘digugu’ dan ‘ditiru’ dari guru yang berkata seperti itu?

Hari Pertama

Aku menatap pasrah soal-soal biologi yang sedang kukerjakan. Susah. Tipe soalnya berbeda dengan tipe-tipe soal try out dan soal UAN tahun-tahun sebelumnya. Ya sudahlah, SKL biologi memang terlalu luas, tidak terprediksi. Setelah sebelumnya lega karena Bahasa Indonesia, sekarang aku sedikit dibuat cemas oleh Biologi.

“Motto kita: 5.5 atau 10 sama saja.”
Ucapan itu ramai di sekolah selepas ujian biologi tadi. Aku tersenyum kecut, sedikit getir. Pernyataan itu memang benar. Toh, yang penting lulus. Tidak seperti nilai UAN SMP yang digunakan untuk masuk SMA –Jakarta–, nilai UAN SMA tidak berpengaruh pada penerimaan ke perguruan tinggi negeri. Yang penting lulus, dan baik nilai 5.5 atau 10 memang sama-sama lulus.


Hari Kedua

Bahasa Inggris, tidak terlalu berkesan. Yang kuingat justru kejadian di pagi harinya. Pagi ini aku mendengar desas-desus yang menyebut bahwa bocoran yang diterima beberapa teman sekolahku valid. Huh, merusak mood saja. Beberapa teman yang juga tidak menggunakan bocoran mencak-mencak. ‘Berarti akan ada yang nilainya bagus banget karena pake bocoran!’ begitu omel mereka tak terima.Ya sudahlah. Kalau nanti nilai anak-anak yang pakai bocoran itu menjadi nilai terbagus dan mereka dipanggil saat wisuda, apa mereka bisa tersenyum bangga dan bersikap seolah itu hasil kerja keras mereka di depan seantero sekolah: murid-murid, guru-guru, dan orang tua? Kasihan.

Hari Ketiga

Mata ujian hari ini adalah mata ujian yang paling kukhawatirkan. Bukan, bukan fisika, tetapi matematika. Perasaanku tak enak. Dan benar, aku tidak terlalu lancar mengerjakannya. Matematika SMA dan SMP itu begitu berbeda. Saat UAN matematika SMP, setengah jam sebelum bel aku sudah santai-santai dan memeriksa kembali LJUN-ku. Sekarang? Jangankan memeriksa ulang, lima menit sebelum bel bahkan masih ada dua soal yang belum kukerjakan. Kabarnya, UAN matematika SMA tahun ini memang yang tersulit selama lima tahun terakhir. Bagus sekali.

Guru sekolahku yang tinggal di sekolah –tidak menjadi pengawas di sekolah lain– sepertinya mengerti betul hal ini. Ia masuk ke kelas, dengan dalih membawakan absen pengawas. Berdiri menghalangi kami dari pandangan pengawas, berlama-lama mengajak kedua pengawas itu berbicara. Sebelum keluar, ia menoleh sekilas pada kami dan mengedip. Menyedihkan.

Hari Keempat

Fisika. Pelajaran momok selama di SMA ini tidak semengerikan matematika, juga tidak se-membuat-pasrah biologi. Aku mengerjakannya dengan perasaan ringan, tenang, santai. Alhamdulillah

“Salsabila, jangan nengok-nengok!” suara pengawas perempuan itu membuatku terbengong. Hah?
Oh, ternyata pengawas itu salah membaca nama. Bukan aku yang dimaksudkannya. Sepertinya, bukan hanya aku yang terkejut. Teman-temanku begitu selesai ujian riuh mengelilingiku.
“Gue kaget bgt, Salsa nengok-nengok?!”
“Sabil kan ngerjainnya nunduk aja, ga bergerak, kayak patung.”
“Shock gue, salsa kan budek kalo dipanggil pas ulangan.”
Oke, terima kasih, aku anggap semua itu pujian. Haha.

Hari Kelima

Alhamdulillah, UAN berakhir dengan menyenangkan, meski sedikit merutuki diri karena ketidaktelitian. Tapi secara umum, soal kimia kali ini tergolong mudah.

Sekarang kami dapat bernapas sedikit lebih lega. Tekanan UAN sudah terangkat. Beban kami hilang sebagian. Tinggal UAS dan ujian praktek, lalu selesai. Selesailah masa 12 tahun pendidikan dasar dan menengah, dan mulai menapak ke jenjang yang lebih tinggi.

Masalah bocoran, contek-contekan, katrol nilai, dan sebagainya itu biarlah berlalu. Sedih sekali memang. Miris. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku baru bisa ber-amar ma’ruf, belum sanggup ber-nahi munkar. Ah, lemah.

Pasca

Allah,
Engkau Maha Tahu siapa yang di pagi hari belajar dan siapa yang di pagi hari menghapalkan kunci jawaban. Berikan yang terbaik untuk orang-orang yang jujur dan senantiasa berusaha untuk jujur. Luluskan kami tak hanya dengan hasil yang membanggakan, tetapi juga dengan terhormat.

Allah,
ampuni kami yang berdoa memohon nilai yang baik, bukannya ilmu yang bermanfaat.
Ampuni kami yang berlomba-lomba mengejar nilai, bukannya berlomba-lomba menggunakan ilmu kami untuk masyarakat.
Di negeri yang masih mengagung-agungkan nilai sebagai tolok ukur pembelajaran, bukan aplikasi ilmu dan penerapannya, salahkah yang kami lakukan?

Allah,
mudahkanlah langkah kami untuk mendaki tebing yang lebih tinggi. Berilah kami kekuatan untuk terus bergerak, terus berkarya, terus melakukan yang terbaik, apapun bidang kami nanti.

Advertisements

5 responses to this post.

  1. Amiin, Amiin, Amiin…

    Bil, kalo baca postingmu ini, kok kayaknya parahan sekolahku ya? Suwer deh… atau mungkin karena yg kamu post di sini blm membongkar semuanya. (sedangkan Thifa udah cerita seabrek konspirasi yg bikin ilfil)

    Kamu kan masih bisa jujur. Thifa sendiri aja nanya2.

    Oya, kata2mu di atas bener banget. Aku juga kalo berdoa minta ‘nilai yg bagus’, bukan ‘ilmu yg bermanfaat’. Astagfirullaahal ‘azhiim. Ntar aku harus ganti cara berdoaku.

    MESTINYA UAN DIHAPUSKAN AJA YAH!!!

  2. Posted by sabilbul on May 3, 2009 at 7:38 PM

    Yg aku tulis dia atas yg plg jd perhatianku. Berarti parahan sekolahmu ya? Iya sih, kemaren olah cerita katanya sekolahmu sampe ngeluarin 30 juta buat ‘menjamu’ pengawas. Parah bgt.

    Iya, UAN dihapus aja, diganti sistem penilaian yg lebih komprehensif dan menyeluruh. Misal: bikin paper atau karya ilmiah hasil penelitian kayak tugas akhir kuliah, disesuaikan sm bidang yg dipelajari

  3. Kata temenku yg pernah sekolah di Jerman, kalo di luar negeri emang begitu. Cuma sedikit negara yg menerapkan sistem ujian bersama. Biasanya kelulusan ditentukan dari proyek akhir sekolah, ya kayak skripsi kuliah gitu deh. Emang harusnya itu lebih efektif kan.

    Ho-oh bil, sekolahku lebih parah. Aku nggak kebayang deh tahun depan kayak apa… benar2 harus punya mental kuat utk LULUS DGN JUJUR.

  4. Posted by dunkelbells on May 4, 2009 at 9:31 PM

    haha.. sama aja masalahnya. nyontek2 juga.
    emang tu masalah ga abis2.

    “Kalau nanti nilai anak-anak yang pakai bocoran itu menjadi nilai terbagus dan mereka dipanggil saat wisuda, apa mereka bisa tersenyum bangga dan bersikap seolah itu hasil kerja keras mereka di depan seantero sekolah: murid-murid, guru-guru, dan orang tua?”

    bisa, ada aja orang yang entah kenapa bisa gitu.

  5. Posted by mmm... ini aku. on May 19, 2009 at 7:23 PM

    Salsabilla…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: