Menjadi Antagonis

Kalau aku ikut kuis-kuis karakter buku/film/apalah di Facebook, hampir bisa dipastikan hasilnya adalah peran antagonis dalam buku/film/apalah tersebut. Slytherin untuk Hogwarts sorting hat, Steve Leopard untuk ‘which Darren Shan chara best describes u’, Roy Mustang dari Full Metal Alchemist, dan sebagainya, dan sebagainya. (Meski Roy Mustang tidak bisa sepenuhnya dibilang antagonis sih)

Semua karakter yang kusebut di atas memiliki kesamaan: mereka ambisius, pantang menyerah, keras hati, bahkan kalau perlu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Tanpa itu, bagaimana bisa menjadi seorang antagonis?

Dalam pandangan banyak orang, kata antagonis diperuntukkan untuk tokoh jahat dari suatu cerita. Padahal, tidak selamanya seperti itu. Menurut Wikipedia, antagonis adalah peran yang bertentangan dengan peran tokoh utamanya. Jadi, jika tokoh utama dari suatu cerita adalah perampok misalnya, maka tokoh polisi atau detektif yang berusaha menangkap perampok tersebut adalah antagonisnya.

Kalau ada orang yang berani menentang arus, maka orang itu adalah antagonis. Kalau ada yang berani melakukan sesuatu yang berbeda dari umumnya, maka dia adalah antagonis. Kalau ada yang berani memikirkan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, maka dia juga antagonis. Para penemu, pemikir, pemimpin, pemberontak, adalah antagonis. Hitler adalah antagonis. Galileo adalah antagonis. Edison adalah antagonis. Soekarno adalah antagonis. Napoleon adalah antagonis. Nabi Muhammad bahkan juga antagonis. Semua tokoh besar dunia yang dicatat dalam sejarah –tak peduli dengan tinta hitam atau tinta emas– adalah antagonis. Mereka adalah antagonis dalam stagnansi kehidupan. Tanpa menjadi antagonis, mereka hanya akan menjadi orang kebanyakan yang, setelah mati, namanya dilupakan begitu saja.

Menjadi antagonis adalah peran yang menantang, sensasional. Tidak ada tokoh antagonis yang hidupnya datar-datar saja. Dan itulah serunya. Maka tanpa ragu aku berkata, aku bangga menjadi seorang antagonis!

Advertisements

4 responses to this post.

  1. Posted by xboskederi on March 24, 2009 at 7:49 PM

    Woiii… emangnya kau antagoniiiiss??
    (tergantung dari sisi siapa yang ngeliat sih)

    tapi emang semua orang itu bisa dibilang tokoh antagonis sih
    jadi bener deh, kau tokoh antagonis

    tapi kalo tentang ‘menggunakan cara apapun untuk mencapai tujuan’…

    HAYO BELAJARRR!!!!!

    …………
    …………

    lagi males komen panjang nih, ntar nyusul ya
    matanya rabun, jadi nggak enak

    oya, kalo dapetnya Slyth dan Ravenclaw tandanya apa tuh?
    Hyohyo….

  2. Tapi bil, antagonis dlm bhs Indonesia lebih kpd kontex lawan yg jahat. Kalau bertentangan, aku lebih suka pakai kata ‘oposisi’. Sebenernya 2.2nya sama aja kan?
    Kalau oposisi atau antagonisnya emang beralasan, oke aja. Tapi kalau sengaja jadi oposisi agar kita sebel (maxudnya cuma utk godain kita), itu nyebelin bgt… (kayak bapakku, hobi bgt sengaja mengoposisi cuma utk bikin aku/adeku/ibuku sebel)

  3. Posted by sabilbul on April 10, 2009 at 6:31 AM

    @xkdr: tujuanku kn ugm ips, jd aku bljrny ips, bukan ipa..hha.. Tp tenang, skrg saatny menutup buku ips dn mulai bljr bwt uan!

    @fadshaka: hahahaha… klo bapakmu mah emg org yg super-sgt-iseng. Inget ga wkt bpkmu sms aku dgn sgt gajel?

  4. Inget banget! Bodohnya…hahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: