Hanya Ekstase Kata

Kenapa kau… bisa begitu bahagia?
Karena… seburuk apapun, aku memutuskan untuk mencintai hidupku apa adanya.

Andai aku tak pernah tahu akan hal itu.
Apa kau yakin, dengan begitu hidupmu akan lebih baik?

Ah, aku lelah.
Memang apa yang telah kau lakukan?

Izinkan aku menghilang sejenak.
Silakan. Selalu akan ada yang bersedia menggantikan posisimu. Tapi kau, akankah ada yang bersedia memberimu kesempatan lagi?

Belum pernah aku begitu membenci seseorang sampai seperti ini sebelumnya.
Ah kau, memangnya, tentang benci, kau tahu apa?

Kenapa kau bersedia tetap berada di balik bayang-bayang?
Karena memberikan yang terbaik, bukan berarti harus menjadi yang ’terbaik’, kan?

Karena mutiara, bahkan di dalam lumpur, tetaplah mutiara…

Yogyakarta,
10 Maret 2010
00.10

Negara Kelima, Era Post-Modernisme Kah?

Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika Para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun.

Negara Kelima, oleh E.S. Ito. Itu adalah salah satu novel yang saya baca saat duduk di bangku sekolah menengah atas, saat saya sedang gandrung-gandrungnya dengan novel thriller-aksi-misteri-teka-teki seperti itu, terutama yang berkaitan dengan sejarah. Genre novel seperti itu selalu kaya, selalu membuat saya merasa mendapat lebih dari sekedar bacaan. Jenis bacaan yang selalu berhasil memaksa saya dengan rela hati mengorbankan waktu tidur demi menuntaskan rasa penasaran dan sesudahnya tercenung sendiri berdialektika dengan pikiran.

Ah, jadi melenceng ke mana-mana. Bukan, sebenarnya saya bukan ingin mengulas novel ini. Bukan pula ingin membahas genre thriller-aksi-misteri-teka-teki yang membuat saya kecanduan itu. Bukan.

Hidup memang bagai kepingan-kepingan yang terserak tanpa terbatas ruang dan masa. Entah bagaimana, beberapa hari yang lalu saya menemukan dan membaca lagi kutipan paragraf di atas dalam notes orang yang bahkan sama sekali tidak saya kenal. Dan entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang wajah dosen pembimbing akademik saya, Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., yang kata anak-anak arkeo ganteng itu. Oh, usut punya usut, ternyata untaian kalimat (nyaris) puitis itu mengingatkan saya pada satu materi dari salah satu mata kuliah yang diampu beliau. The end of globalization, era post-modernisme.

Continue reading

(Lagi-Lagi) Tentang Pilihan

Membaca notes seorang teman, dan ah, lagi-lagi aku terpikir tentang pilihan.

Lagi dan lagi. Hidup manusia memang penuh dengan pilihan. Pilihan yang diambil dalam sadar maupun tanpa sadar. Pilihan besar yang mempengaruhi kehidupan ataupun pilihan kecil yang mungkin tak terlihat seperti pilihan. Manusia memang akan selalu berkawan dengan pilihan.

Dalam setiap detak kehidupan, selalu ada pilihan. Memilih untuk tidak memilih, itu pilihan. Bahkan ketika tampaknya tak ada lagi pilihan, memilih untuk menolak menyerah terhadap ketiadaan pilihan, bahkan itu juga pilihan. Selama nadi masih berdenyut, selama itu pula pilihan akan selalu ada.

Di hadapan setiap manusia, akan selalu terbentang banyak jalan. Ada jalan benderang yang menampilkan jelas apa yang ada di seberangnya. Ada jalan belantara yang gulita, meski samar di ujungnya terlihat cahaya. Ada jalan mulus beraspal, ada jalan tanah setapak, ada pula jalan belukar yang kelihatannya tak pernah dilalui manusia. Menentukan jalan mana yang akan dilalui itu pilihan, dan aku masih senantiasa bersiteguh, memilih sendiri jalanku.

Bukan berarti aku begitu percaya diri, begitu yakin dengan pilihanku. Bukan begitu. Hanya saja, ini jalanku. Jalan yang akan kulalui, jalan yang aku bertanggung jawab sepenuhnya tentangnya. Dan setiap diri akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing. Bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada sesuatu yang diputuskan orang lain untukku?

Di antara harap dan cemas, selalu dan selalu, aku berdoa agar pilihan yang kuambil -apapun itu- memang yang terbaik…

Yogyakarta,
15 Februari 2010

Tentang Orang yang Padanya Disematkan Titel Ayah

Seperti halnya legenda yang tidak bisa lagi dilacak siapa pemulanya, begitu pula tulisan copas-an ini dan banyak tulisan-tulisan inspiratif lain yang beredar di ranah tanpa batas bernama internet ini. Maka, tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun yang membuat tulisan ini, juga untuk menghindari tuduhan plagiasi, kita sebut saja sumbernya anonim.

Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah lebih dari lima kali saya membaca tulisan ini, dari berbagai blog atau notes orang-orang yang terserak di dunia maya. Namun tetap saja, setiap kali saya selalu trenyuh dan berkaca-kaca saat membacanya. Bagi yang sudah pernah membacanya, saya rasa tak ada ruginya dibaca ulang. Bagi yang belum pernah, maka bacalah. Ah, saya sudah terlalu banyak basa-basi sepertinya. Langsung saja.

*****

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.

Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil……

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas :
Continue reading

Cogito Ergo Scribo Ergo Sum

Cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.

Falsafah itu dikemukakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf Perancis, awal abad ke-17 Masehi. Dalam berbagai literatur berbahasa Latin, ia dikenal sebagai Renatus Cartesius. Selain mendalami filsafat, ia juga seorang matematikawan. Sistem koordinat Cartesius, yang sampai sekarang masih dipelajari di sekolah menengah, adalah salah satu pengembangan di bidang matematika yang ia lakukan.

Cogito ergo sum. Sebenarnya, ungkapan itu berbunyi lengkap: dubito ergo cogito ergo sum. Aku ragu, maka aku berpikir, maka aku ada. Karena memang, awal dari tercetusnya kalimat yang sekarang terkenal di seantero jagat itu adalah saat Descartes mulai meragukan segala sesuatunya. Ia meragukan keberadaan benda-benda, bahkan ia meragukan keberadaan dirinya sendiri. Ia ragu, maka ia berpikir. Semakin keras ia berpikir, ternyata ia tidak menjadi semakin yakin. Tetap tidak ada yang pasti. Satu-satunya yang pasti adalah kenyataan bahwa ia terus berpikir. Ia berpikir, maka ia ada.

Pikiran adalah elemen vital dari kehidupan. Tanpa berpikir, manusia mati. Orang dengan penyakit jantung masih dapat dibantu dengan transplantasi jantung, begitu pula dengan organ-organ lain seperti ginjal, hati, ataupun paru-paru. Tetapi otak? Transplantasi otak? Cangkok otak? Seperti orang yang mengalami kerusakan batang otak. Ia hidup, jantungnya masih berdenyut, tetapi otaknya tidak lagi berfungsi. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang dikontrol oleh kesadaran seperti berjalan, berbicara, membaca, menulis, berpikir. Seolah hanya tinggal menunggu mati.

Namun, sekedar berpikir belum cukup sebagai syarat untuk eksistensi diri. Ada hal lain yang tak kalah penting untuk menjadi ’ada’. Menulis.

Continue reading

Menikmati Perjalanan

Saya pernah beberapa kali mengajak beberapa teman untuk berjalan-jalan ke suatu tempat, dan ditanggapi dengan skeptis seperti ini:
“Ah, emang nanti di sana mau ngapain?”
“Ya jalan-jalan, foto-foto.”
“Males ah, udah capek-capek sampe sana cuma foto-foto doang.”

Pernah juga suatu kali saya dan beberapa orang teman melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan ke suatu tempat. Sampai di sana, salah seorang dari mereka hanya berkomentar, “Cuma begini doang? Ah sia-sia amat perjalanan susah-susah cuma kayak gini aja.”

Oh boi, saya langsung berpikir, sepertinya saya mengajak orang yang salah.

Bagi saya, jalan-jalan bukan hanya sekedar sampai ke tempat tujuan, melakukan suatu kegiatan di sana, lalu pulang. Jalan-jalan bagi saya adalah keseluruhan cerita, mulai dari perjalanan berangkat, di tempat tujuan, dan perjalanan pulang. Bahkan terkadang, saat saya begitu menikmati suatu perjalanan, destinasi tak lagi menjadi soal.

Selalu ada kenikmatan tersendiri dalam perjalanan. Saya menikmati belaian angin yang menyelusup dari bukaan jendela kendaraan. Saya menikmati pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan, juga berbagai fenomena sosial yang tertangkap begitu saja oleh kedua mata saya dalam perjalanan. Saya menikmati sensasi perjalanan yang berkelok naik-turun, kadang mulus meski sering juga melewati jalan rusak atau berbatu. Saya menikmati saat-saat berdiri dalam bus, menikmati saat-saat menanti kondektur dengan tegang sambil bertanya-tanya seberapa mahal ongkosnya. Saya menikmati derap langkah yang mulai tertatih kelelahan, dan kenikmatan luar biasa saat bisa istirahat sejenak. Saya menikmati sengatan matahari yang seolah membakar ubun-ubun kepala, dan saat-saat menenggak beberapa tetes air yang serasa mata air dari surga. Saya menikmati saat gairah petualang membanjiri sekujur tubuh, mengalir deras di urat saraf dan pembuluh darah. Saya menikmati berbagai cerita yang terjadi dalam perjalanan.

Continue reading

[Perjalanan Penuh Nekat] Baron-Kukup, Tempat Gunung dan Laut Bertemu

Oke, perjalanan ini memang perjalanan nekat. Didasari oleh kenekatan, penuh hal-hal nekat, dan diakhiri dengan kenekatan pula.

Awalnya adalah tanpa rencana. Hanya sekedar ingin ‘melarikan diri’ sejenak. Berbekal secuil informasi dari internet, Senin itu, selepas kuliah bahasa Inggris, aku berdua dengan seorang teman sejurusanku, nekat langsung jalan saja.

Kami memang ‘anak bus’. Maka perjalanan hari itu juga kami tempuh dengan bus. Bus jalur 4 UGM-Ring Road Selatan, lanjut bus Jogja-Wonosari sampai terminal Wonosari. Keluar dari terminal, di pinggir jalan ada angkudes (angkutan desa) bertuliskan Wonosari-Baron. Begitulah rute angkutan umum kami hari itu menuju Pantai Baron, satu pantai di daerah Gunung Kidul yang dijangkau kendaraan umum.

Perjalanan tiga jam lebih itu bukan perjalanan yang mudah. Melintasi Gunung Kidul berarti melewati jalan yang berkelok-kelok naik-turun. Bagi yang tidak terbiasa dan memiliki kecenderungan mabuk darat, bisa pusing dan mual. Tapi sungguh, perjalanan panjang itu benar-benar tidak sia-sia.

Tepat tengah hari, pukul 12 siang, kami menginjakkan kaki di pelataran parkir bus Pantai Baron. Semilir angin menguarkan aroma laut yang segera saja memenuhi indera penciuman kami. Tujuan pertama kami, yang memang belum sempat sarapan pagi, tentu saja: warung makan!

Usai makan, kami mengganti sepatu dengan sandal jepit yang sudah dibawa dari kosan (tentu tidak mungkin aku masuk kuliah mengenakan sandal jepit) dan berlari-lari kecil menuju muara sungai yang memang berakhir di Laut Selatan bagian pantai ini. Yang unik, sungai yang bermuara di sini adalah sungai bawah tanah, yang mengalir dari celah-celah gua bawah tanah. Di sisi-sisi seberang sungai, ada ceruk-ceruk kecil yang terletak sedikit lebih tinggi dari permukaan sungai saat itu –entah saat pasang tengah malam– sehingga daratan di bawah ceruk-ceruk itu terlihat seperi pulau terisolir. Untuk mencapai ceruk-ceruk itu, kami harus menyeberang melintang melawan arus sungai yang lumayan deras, cukup deras untuk membuatku tidak bisa bergerak lurus, harus berjalan dengan kemiringan entah berapa derajat. Usaha melawan tarikan arus itu terbayar dengan pemandangan bebatuan mineral warna-warni yang mengeras di dalam ceruk. Indah sekali.

Continue reading