<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Begitulah</title>
	<atom:link href="http://sabilbul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sabilbul.wordpress.com</link>
	<description>Memang rada-rada</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Feb 2011 12:21:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sabilbul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/47b4060754551831eac2f335585399a6?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Begitulah</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sabilbul.wordpress.com/osd.xml" title="Begitulah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sabilbul.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hanya Ekstase Kata</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/hanya-ekstase-kata/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/hanya-ekstase-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 13:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa kau… bisa begitu bahagia? Karena&#8230; seburuk apapun, aku memutuskan untuk mencintai hidupku apa adanya. Andai aku tak pernah tahu akan hal itu. Apa kau yakin, dengan begitu hidupmu akan lebih baik? Ah, aku lelah. Memang apa yang telah kau lakukan? Izinkan aku menghilang sejenak. Silakan. Selalu akan ada yang bersedia menggantikan posisimu. Tapi kau, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=151&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa kau… bisa begitu bahagia?<br />
Karena&#8230; seburuk apapun, aku memutuskan untuk mencintai hidupku apa adanya.</p>
<p>Andai aku tak pernah tahu akan hal itu.<br />
Apa kau yakin, dengan begitu hidupmu akan lebih baik?</p>
<p>Ah, aku lelah.<br />
Memang apa yang telah kau lakukan?</p>
<p>Izinkan aku menghilang sejenak.<br />
Silakan. Selalu akan ada yang bersedia menggantikan posisimu. Tapi kau, akankah ada yang bersedia memberimu kesempatan lagi?</p>
<p>Belum pernah aku begitu membenci seseorang sampai seperti ini sebelumnya.<br />
Ah kau, memangnya, tentang benci, kau tahu apa?</p>
<p>Kenapa kau bersedia tetap berada di balik bayang-bayang?<br />
Karena memberikan yang terbaik, bukan berarti harus menjadi yang ’terbaik’, kan?</p>
<p>Karena mutiara, bahkan di dalam lumpur, tetaplah mutiara&#8230;</p>
<p>Yogyakarta,<br />
10 Maret 2010<br />
00.10</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=151&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/hanya-ekstase-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negara Kelima, Era Post-Modernisme Kah?</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/negara-kelima-era-post-modernisme-kah/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/negara-kelima-era-post-modernisme-kah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 13:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[negara kelima]]></category>
		<category><![CDATA[post-modernisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika Para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun. Negara Kelima, oleh E.S. Ito. Itu adalah salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=145&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika Para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun.</em></p>
<p>Negara Kelima, oleh E.S. Ito. Itu adalah salah satu novel yang saya baca saat duduk di bangku sekolah menengah atas, saat saya sedang gandrung-gandrungnya dengan novel thriller-aksi-misteri-teka-teki seperti itu, terutama yang berkaitan dengan sejarah. Genre novel seperti itu selalu kaya, selalu membuat saya merasa mendapat lebih dari sekedar bacaan. Jenis bacaan yang selalu berhasil memaksa saya dengan rela hati mengorbankan waktu tidur demi menuntaskan rasa penasaran dan sesudahnya tercenung sendiri berdialektika dengan pikiran.</p>
<p>Ah, jadi melenceng ke mana-mana. Bukan, sebenarnya saya bukan ingin mengulas novel ini. Bukan pula ingin membahas genre thriller-aksi-misteri-teka-teki yang membuat saya kecanduan itu. Bukan.</p>
<p>Hidup memang bagai kepingan-kepingan yang terserak tanpa terbatas ruang dan masa. Entah bagaimana, beberapa hari yang lalu saya menemukan dan membaca lagi kutipan paragraf di atas dalam notes orang yang bahkan sama sekali tidak saya kenal. Dan entah kenapa, tiba-tiba saya terbayang wajah dosen pembimbing akademik saya, Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., yang kata anak-anak arkeo ganteng itu. Oh, usut punya usut, ternyata untaian kalimat (nyaris) puitis itu mengingatkan saya pada satu materi dari salah satu mata kuliah yang diampu beliau. The end of globalization, era post-modernisme.</p>
<p><span id="more-145"></span><em>Negara kelima adalah kebangkitan masa silam.</em></p>
<p><em>Di masa akhir globalisasi, religi dan etnisitas menjadi sumber pencarian identitas baru. Orang-orang kembali pada nilai-nilai budaya tradisional. Kepercayaan masa lampau kembali menguat.</em> (mengutip dari catatan Dasar-Dasar Ilmu Budaya)</p>
<p>Sounds similar, hm?</p>
<p>Saya agak lupa apa persisnya negara kelima yang dimaksud di dalam novel tersebut. Tapi membaca deskripsi negara kelima dalam paragraf di atas sekarang, saat saya sudah mempelajari materi post-modernisme, rasa-rasanya otak saya mulai menghubungkan kedua hal itu.</p>
<p>Post-modernisme merupakan respon balik untuk modernisasi, yang dilandasi pemikiran kritis terhadap kondisi atau pencapaian gerakan modernisme, muncul menjelang keruntuhan era globalisasi. Berlawanan dengan prinsip globalisasi yang melebur batas-batas wilayah dan budaya, orang-orang mulai beralih pada isu regionalisasi. Post-modernisme menolak penyeragaman yang diusung oleh modernisme. Terjadi keresahan dan kekacauan sosial, yang kemudian diikuti oleh penataan struktur sosial dan penciptaan budaya baru. Tatanan dunia baru membutuhkan identitas baru. Dan yang disasar dalam pembentukan identitas baru itu adalah nilai-nilai dan warisan budaya lama (tradisional).</p>
<p>Negara kelima adalah kebangkitan masa silam, dan era post-modernisme adalah saat nilai-nilai masa lampau kembali menguat. Maka saya kembali bertanya-tanya. Negara kelima, era post-modernisme kah?</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=145&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/negara-kelima-era-post-modernisme-kah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Lagi-Lagi) Tentang Pilihan</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/lagi-lagi-tentang-pilihan/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/lagi-lagi-tentang-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 13:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Membaca notes seorang teman, dan ah, lagi-lagi aku terpikir tentang pilihan. Lagi dan lagi. Hidup manusia memang penuh dengan pilihan. Pilihan yang diambil dalam sadar maupun tanpa sadar. Pilihan besar yang mempengaruhi kehidupan ataupun pilihan kecil yang mungkin tak terlihat seperti pilihan. Manusia memang akan selalu berkawan dengan pilihan. Dalam setiap detak kehidupan, selalu ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=146&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Membaca notes seorang teman, dan ah, lagi-lagi aku terpikir tentang pilihan.</p>
<p>Lagi dan lagi. Hidup manusia memang penuh dengan pilihan. Pilihan yang diambil dalam sadar maupun tanpa sadar. Pilihan besar yang mempengaruhi kehidupan ataupun pilihan kecil yang mungkin tak terlihat seperti pilihan. Manusia memang akan selalu berkawan dengan pilihan.</p>
<p>Dalam setiap detak kehidupan, selalu ada pilihan. Memilih untuk tidak memilih, itu pilihan. Bahkan ketika tampaknya tak ada lagi pilihan, memilih untuk menolak menyerah terhadap ketiadaan pilihan, bahkan itu juga pilihan. Selama nadi masih berdenyut, selama itu pula pilihan akan selalu ada.</p>
<p>Di hadapan setiap manusia, akan selalu terbentang banyak jalan. Ada jalan benderang yang menampilkan jelas apa yang ada di seberangnya. Ada jalan belantara yang gulita, meski samar di ujungnya terlihat cahaya. Ada jalan mulus beraspal, ada jalan tanah setapak, ada pula jalan belukar yang kelihatannya tak pernah dilalui manusia. Menentukan jalan mana yang akan dilalui itu pilihan, dan aku masih senantiasa bersiteguh, memilih sendiri jalanku.</p>
<p>Bukan berarti aku begitu percaya diri, begitu yakin dengan pilihanku. Bukan begitu. Hanya saja, ini jalanku. Jalan yang akan kulalui, jalan yang aku bertanggung jawab sepenuhnya tentangnya. Dan setiap diri akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing. Bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada sesuatu yang diputuskan orang lain untukku?</p>
<p>Di antara harap dan cemas, selalu dan selalu, aku berdoa agar pilihan yang kuambil -apapun itu- memang yang terbaik&#8230;</p>
<p>Yogyakarta,<br />
15 Februari 2010</p>
<p><a href="http://sabilbul.files.wordpress.com/2010/03/crossroad.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-147" title="crossroad" src="http://sabilbul.files.wordpress.com/2010/03/crossroad.jpg?w=158&#038;h=199" alt="" width="158" height="199" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=146&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/lagi-lagi-tentang-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sabilbul.files.wordpress.com/2010/03/crossroad.jpg?w=240" medium="image">
			<media:title type="html">crossroad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Orang yang Padanya Disematkan Titel Ayah</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/tentang-orang-yang-padanya-disematkan-titel-ayah/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/tentang-orang-yang-padanya-disematkan-titel-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 13:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[copas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Seperti halnya legenda yang tidak bisa lagi dilacak siapa pemulanya, begitu pula tulisan copas-an ini dan banyak tulisan-tulisan inspiratif lain yang beredar di ranah tanpa batas bernama internet ini. Maka, tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun yang membuat tulisan ini, juga untuk menghindari tuduhan plagiasi, kita sebut saja sumbernya anonim. Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=148&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti halnya legenda yang tidak bisa lagi dilacak siapa pemulanya, begitu pula tulisan copas-an ini dan banyak tulisan-tulisan inspiratif lain yang beredar di ranah tanpa batas bernama internet ini. Maka, tanpa mengurangi rasa hormat pada siapapun yang membuat tulisan ini, juga untuk menghindari tuduhan plagiasi, kita sebut saja sumbernya anonim.</p>
<p>Kalau dihitung-hitung, sepertinya sudah lebih dari lima kali saya membaca tulisan ini, dari berbagai blog atau notes orang-orang yang terserak di dunia maya. Namun tetap saja, setiap kali saya selalu trenyuh dan berkaca-kaca saat membacanya. Bagi yang sudah pernah membacanya, saya rasa tak ada ruginya dibaca ulang. Bagi yang belum pernah, maka bacalah. Ah, saya sudah terlalu banyak basa-basi sepertinya. Langsung saja.</p>
<p>*****</p>
<p>Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..<br />
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Papa?</p>
<p>Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,<br />
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?</p>
<p>Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,<br />
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?</p>
<p>Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil&#8230;&#8230;</p>
<p>Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.<br />
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu&#8230;<br />
Kemudian Mama bilang : &#8220;Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya&#8221; ,<br />
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka&#8230;.<br />
Tapi sadarkah kamu?<br />
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.</p>
<p>Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.<br />
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas :<br />
<span id="more-148"></span>&#8220;Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang&#8221;<br />
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?</p>
<p>Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :<br />
&#8220;Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!&#8221;.<br />
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.<br />
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.</p>
<p>Ketika kamu sudah beranjak remaja&#8230;.</p>
<p>Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: &#8220;Tidak boleh!&#8221;.<br />
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?<br />
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat &#8211; sangat luar biasa berharga..</p>
<p>Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu&#8230;<br />
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama&#8230;.<br />
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,<br />
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?</p>
<p>Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia&#8230;. :&#8217;)<br />
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..<br />
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?</p>
<p>Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.<br />
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir&#8230;<br />
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut &#8211; larut&#8230;<br />
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .<br />
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?<br />
&#8220;Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa&#8221;</p>
<p>Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.<br />
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata &#8211; mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti&#8230;<br />
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika kamu menjadi gadis dewasa&#8230;.</p>
<p>Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain&#8230;<br />
Papa harus melepasmu di bandara.<br />
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?<br />
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini &#8211; itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .<br />
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.<br />
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata &#8220;Jaga dirimu baik-baik ya sayang&#8221;.<br />
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT&#8230;kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.</p>
<p>Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.<br />
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.</p>
<p>Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan&#8230;<br />
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : &#8220;Tidak&#8230;. Tidak bisa!&#8221;<br />
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan &#8220;Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu&#8221;.<br />
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?</p>
<p>Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.<br />
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.<br />
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat &#8220;putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang&#8221;</p>
<p>Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.<br />
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..<br />
Karena Papa tahu&#8230;..<br />
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.</p>
<p>Dan akhirnya&#8230;.<br />
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia&#8230;.<br />
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?<br />
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa&#8230;.<br />
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: &#8220;Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik&#8230;.<br />
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik&#8230;.<br />
Bahagiakanlah ia bersama suaminya&#8230;&#8221;</p>
<p>Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk&#8230;<br />
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih&#8230;.<br />
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya&#8230;.<br />
Papa telah menyelesaikan tugasnya&#8230;.</p>
<p>Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita&#8230;<br />
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat&#8230;<br />
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis&#8230;<br />
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .<br />
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa &#8220;KAMU BISA&#8221; dalam segala hal apapun.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=148&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2010/03/11/tentang-orang-yang-padanya-disematkan-titel-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cogito Ergo Scribo Ergo Sum</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2010/01/04/cogito-ergo-scribo-ergo-sum/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2010/01/04/cogito-ergo-scribo-ergo-sum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 15:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cogito ergo sum]]></category>
		<category><![CDATA[descartes]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[scribo ergo sum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada. Falsafah itu dikemukakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf Perancis, awal abad ke-17 Masehi. Dalam berbagai literatur berbahasa Latin, ia dikenal sebagai Renatus Cartesius. Selain mendalami filsafat, ia juga seorang matematikawan. Sistem koordinat Cartesius, yang sampai sekarang masih dipelajari di sekolah menengah, adalah salah satu pengembangan di bidang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=142&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cogito ergo sum. Aku berpikir, maka aku ada.</p>
<p>Falsafah itu dikemukakan oleh Rene Descartes, seorang filsuf Perancis, awal abad ke-17 Masehi. Dalam berbagai literatur berbahasa Latin, ia dikenal sebagai Renatus Cartesius. Selain mendalami filsafat, ia juga seorang matematikawan. Sistem koordinat Cartesius, yang sampai sekarang masih dipelajari di sekolah menengah, adalah salah satu pengembangan di bidang matematika yang ia lakukan.</p>
<p>Cogito ergo sum. Sebenarnya, ungkapan itu berbunyi lengkap: dubito ergo cogito ergo sum. Aku ragu, maka aku berpikir, maka aku ada. Karena memang, awal dari tercetusnya kalimat yang sekarang terkenal di seantero jagat itu adalah saat Descartes mulai meragukan segala sesuatunya. Ia meragukan keberadaan benda-benda, bahkan ia meragukan keberadaan dirinya sendiri. Ia ragu, maka ia berpikir. Semakin keras ia berpikir, ternyata ia tidak menjadi semakin yakin. Tetap tidak ada yang pasti. Satu-satunya yang pasti adalah kenyataan bahwa ia terus berpikir. Ia berpikir, maka ia ada.</p>
<p>Pikiran adalah elemen vital dari kehidupan. Tanpa berpikir, manusia mati. Orang dengan penyakit jantung masih dapat dibantu dengan transplantasi jantung, begitu pula dengan organ-organ lain seperti ginjal, hati, ataupun paru-paru. Tetapi otak? Transplantasi otak? Cangkok otak? Seperti orang yang mengalami kerusakan batang otak. Ia hidup, jantungnya masih berdenyut, tetapi otaknya tidak lagi berfungsi. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang dikontrol oleh kesadaran seperti berjalan, berbicara, membaca, menulis, berpikir. Seolah hanya tinggal menunggu mati.</p>
<p>Namun, sekedar berpikir belum cukup sebagai syarat untuk eksistensi diri. Ada hal lain yang tak kalah penting untuk menjadi ’ada’. Menulis.</p>
<p><span id="more-142"></span>Aku berpikir, maka aku ada. Akan tetapi, tanpa ditulis, keberadaan itu hanya sampai sang aku masih bisa berpikir. Pikiran yang tidak dituliskan hanya akan bermanfaat saat sang empunya pikiran masih ada untuk mensosialisasikan pikirannya. Setelah ia mati, pikiran itu akan ikut terbawa mati, seolah tertiup angin begitu saja, hilang tanpa jejak, ditelan zaman. Keberadaan yang diwujudkan hanya lewat pikiran tanpa ada bukti tulisan hanya akan eksis di rentang kekinian.</p>
<p>Masa apa yang paling sulit dilacak dan direkonstruksi kehidupannya? Masa apa yang paling menjadi perdebatan, bahkan ada yang meragukan keberadaanya? Masa apa yang paling penuh spekulasi dan ketidakpastian? Jawabannya adalah masa ketika tidak ada bukti tertulis yang bisa dipelajari, masa prasejarah. Manusia di masa itu tentu telah mampu berpikir, melihat dari alat-alat dan bangunan-bangunan batu yang mereka hasilkan. Tapi tanpa tulisan, semua itu tetap terasa samar-samar.</p>
<p>Aku menulis, maka aku ada. Scribo ergo sum.</p>
<p>Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. Pramoedya Ananta Toer, tetralogi Pulau Buru. Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi. Ki Hajar Dewantara, Als Ik Eens Nederlander Was. Harriet Stowe, Uncle’s Tom Cabin. Karl Max, Das Capital. Adolf Hitler, Mein Kampf. Prapanca, Nagarakrtagama.</p>
<p>Nama-nama itu tidak hanya eksis di masanya, dengan karya-karya mereka yang mengguncang dan mengubah dunia. Mereka &#8211;pemikiran mereka&#8211; tetap hidup sampai sekarang, karena mereka menuangkan pemikiran itu ke dalam bentuk tulisan. Tulisan-tulisan mereka mewarnai sejarah, dan sejarah pun memberi timbal balik dengan mencatat nama mereka. Secara fisik, mereka mungkin telah mati. Tapi pemikiran dan semangat yang hendak mereka sampaikan dalam tulisan itu tetap abadi. Keberadaan mereka tidak terbatas hanya di masa mereka hidup, tetapi terus sampai bertahun, bahkan berabad setelah itu. Mengutip kalimat dari sebuah blog, menulis adalah bekerja pada keabadian.</p>
<p>Aku berpikir, maka aku ada. Aku menulis, maka aku ada. Aku berpikir, maka aku menulis, maka aku ada.</p>
<p>Cogito ergo scribo ergo sum.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=142&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2010/01/04/cogito-ergo-scribo-ergo-sum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati Perjalanan</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/30/menikmati-perjalanan/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/30/menikmati-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 00:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah beberapa kali mengajak beberapa teman untuk berjalan-jalan ke suatu tempat, dan ditanggapi dengan skeptis seperti ini: “Ah, emang nanti di sana mau ngapain?” “Ya jalan-jalan, foto-foto.” “Males ah, udah capek-capek sampe sana cuma foto-foto doang.” Pernah juga suatu kali saya dan beberapa orang teman melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan ke suatu tempat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=138&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pernah beberapa kali mengajak beberapa teman untuk berjalan-jalan ke suatu tempat, dan ditanggapi dengan skeptis seperti ini:<br />
“Ah, emang nanti di sana mau ngapain?”<br />
“Ya jalan-jalan, foto-foto.”<br />
“Males ah, udah capek-capek sampe sana cuma foto-foto doang.”</p>
<p>Pernah juga suatu kali saya dan beberapa orang teman melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan ke suatu tempat. Sampai di sana, salah seorang dari mereka hanya berkomentar, “Cuma begini doang? Ah sia-sia amat perjalanan susah-susah cuma kayak gini aja.”</p>
<p>Oh boi, saya langsung berpikir, sepertinya saya mengajak orang yang salah.</p>
<p>Bagi saya, jalan-jalan bukan hanya sekedar sampai ke tempat tujuan, melakukan suatu kegiatan di sana, lalu pulang. Jalan-jalan bagi saya adalah keseluruhan cerita, mulai dari perjalanan berangkat, di tempat tujuan, dan perjalanan pulang. Bahkan terkadang, saat saya begitu menikmati suatu perjalanan, destinasi tak lagi menjadi soal.</p>
<p>Selalu ada kenikmatan tersendiri dalam perjalanan. Saya menikmati belaian angin yang menyelusup dari bukaan jendela kendaraan. Saya menikmati pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan, juga berbagai fenomena sosial yang tertangkap begitu saja oleh kedua mata saya dalam perjalanan. Saya menikmati sensasi perjalanan yang berkelok naik-turun, kadang mulus meski sering juga melewati jalan rusak atau berbatu. Saya menikmati saat-saat berdiri dalam bus, menikmati saat-saat menanti kondektur dengan tegang sambil bertanya-tanya seberapa mahal ongkosnya. Saya menikmati derap langkah yang mulai tertatih kelelahan, dan kenikmatan luar biasa saat bisa istirahat sejenak. Saya menikmati sengatan matahari yang seolah membakar ubun-ubun kepala, dan saat-saat menenggak beberapa tetes air yang serasa mata air dari surga. Saya menikmati saat gairah petualang membanjiri sekujur tubuh, mengalir deras di urat saraf dan pembuluh darah. Saya menikmati berbagai cerita yang terjadi dalam perjalanan.</p>
<p><span id="more-138"></span>Selalu ada cerita dalam perjalanan. Ada cerita tentang menumpang mobil orang tak dikenal karena kehabisan kendaraan umum. Ada cerita tentang meminjam handphone dan meminta pulsa orang asing yang duduk di sebelah saya karena terjebak macet dan hujan malam-malam di tengah belantara ibukota sedang handphone saya mati habis baterai, padahal saya belum memberi kabar pada orang rumah. Ada cerita tentang kabur begitu saja dari angkot karena melihat abangnya tonjok-tonjokan dengan abang angkot lain seperti di sinetron, lalu dikejar sang abang angkot karena belum bayar. Ada cerita tentang berjalan kaki dari pintu masuk Kawah Putih sampai atas, menjadi tontonan dan diselamati orang-orang begitu tiba di atas, karena sebelumnya tak ada orang yang mau berjalan kaki naik begitu, penduduk asli sekalipun. </p>
<p>Tak hanya cerita heboh, konyol dan nekat, dalam perjalanan juga selalu ada cerita lainnya, jenis cerita yang mengagumkan tentang kekompakan, kerja sama, dan bahu-membahu saling menjaga. Selalu ada cerita tentang kepedulian, saat harus menekan ego pribadi demi kepentingan bersama. Selalu ada cerita tentang pahit-manis yang dibagi bersama. Dan tentu saja, selalu ada cerita tentang kenangan yang tak terlupakan.</p>
<p>Perjalanan mengajarkan saya banyak hal. Mengembalikan gairah hidup yang mungkin sempat menghilang, menyelamatkan saya dari rutinitas yang mematikan. Memberi saya beragam pengalaman menakjubkan. Yang semanis madu, yang sepahit kopi, yang sekecut limau, yang seasin garam, yang sepedas cabai, semuanya ada. Ah, saya benar-benar menikmati perjalanan. <em>Man, traveling is not just about destination, but also the journey itself</em>!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=138&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/30/menikmati-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Perjalanan Penuh Nekat] Baron-Kukup, Tempat Gunung dan Laut Bertemu</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/13/perjalanan-penuh-nekat-baron-kukup-tempat-gunung-dan-laut-bertemu/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/13/perjalanan-penuh-nekat-baron-kukup-tempat-gunung-dan-laut-bertemu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 11:36:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[pantai baron]]></category>
		<category><![CDATA[pantai kukup]]></category>
		<category><![CDATA[petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Oke, perjalanan ini memang perjalanan nekat. Didasari oleh kenekatan, penuh hal-hal nekat, dan diakhiri dengan kenekatan pula. Awalnya adalah tanpa rencana. Hanya sekedar ingin ‘melarikan diri’ sejenak. Berbekal secuil informasi dari internet, Senin itu, selepas kuliah bahasa Inggris, aku berdua dengan seorang teman sejurusanku, nekat langsung jalan saja. Kami memang ‘anak bus’. Maka perjalanan hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=131&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://sabilbul.files.wordpress.com/2009/10/dsc07850.jpg?w=405&#038;h=304" alt="" width="405" height="304" />Oke, perjalanan ini memang perjalanan nekat. Didasari oleh kenekatan, penuh hal-hal nekat, dan diakhiri dengan kenekatan pula.</p>
<p>Awalnya adalah tanpa rencana. Hanya sekedar ingin ‘melarikan diri’ sejenak. Berbekal secuil informasi dari internet, Senin itu, selepas kuliah bahasa Inggris, aku berdua dengan seorang teman sejurusanku, nekat langsung jalan saja.</p>
<p>Kami memang ‘anak bus’. Maka perjalanan hari itu juga kami tempuh dengan bus. Bus jalur 4 UGM-Ring Road Selatan, lanjut bus Jogja-Wonosari sampai terminal Wonosari. Keluar dari terminal, di pinggir jalan ada angkudes (angkutan desa) bertuliskan Wonosari-Baron. Begitulah rute angkutan umum kami hari itu menuju Pantai Baron, satu pantai di daerah Gunung Kidul yang dijangkau kendaraan umum.</p>
<p>Perjalanan tiga jam lebih itu bukan perjalanan yang mudah. Melintasi Gunung Kidul berarti melewati jalan yang berkelok-kelok naik-turun. Bagi yang tidak terbiasa dan memiliki kecenderungan mabuk darat, bisa pusing dan mual. Tapi sungguh, perjalanan panjang itu benar-benar tidak sia-sia.</p>
<p>Tepat tengah hari, pukul 12 siang, kami menginjakkan kaki di pelataran parkir bus Pantai Baron. Semilir angin menguarkan aroma laut yang segera saja memenuhi indera penciuman kami. Tujuan pertama kami, yang memang belum sempat sarapan pagi, tentu saja: warung makan!</p>
<p>Usai makan, kami mengganti sepatu dengan sandal jepit yang sudah dibawa dari kosan (tentu tidak mungkin aku masuk kuliah mengenakan sandal jepit) dan berlari-lari kecil menuju muara sungai yang memang berakhir di Laut Selatan bagian pantai ini. Yang unik, sungai yang bermuara di sini adalah sungai bawah tanah, yang mengalir dari celah-celah gua bawah tanah. Di sisi-sisi seberang sungai, ada ceruk-ceruk kecil yang terletak sedikit lebih tinggi dari permukaan sungai saat itu &#8211;entah saat pasang tengah malam&#8211; sehingga daratan di bawah ceruk-ceruk itu terlihat seperi pulau terisolir. Untuk mencapai ceruk-ceruk itu, kami harus menyeberang melintang melawan arus sungai yang lumayan deras, cukup deras untuk membuatku tidak bisa bergerak lurus, harus berjalan dengan kemiringan entah berapa derajat. Usaha melawan tarikan arus itu terbayar dengan pemandangan bebatuan mineral warna-warni yang mengeras di dalam ceruk. Indah sekali.</p>
<p><span id="more-131"></span>Masih ingat tentang gempa Wonosari yang berpusat di Laut Selatan beberapa minggu lalu? Karena itulah mungkin, di bibir pantai, ada papan yang menyeru agar waspada tsunami bila terjadi gempa yang diikuti dengan surutnya air laut dalam volume tak wajar.</p>
<p>Meski sama-sama terletak di provinsi DIY dan menghadap ke Laut Selatan, ombak di sini memang tidak seheboh di Parangtritis. Mungkin karena di sini bertebaran karang-karang besar yang memecah gelombang sebelum sampai pada kami.</p>
<p>Pantai-pantai daerah Gunung Kidul adalah tempat gunung dan laut bertemu. Di bukit-bukit sebelah kiri kalau kita menghadap ke arah laut, ada jalan setapak yang kalau ditelusuri akan membawa kita sampai di Pantai Kukup, salah satu pantai lain di Gunung Kidul. Namanya jalan setapak di perbukitan, tentu bukan jalan mulus yang mudah ditempuh. Namun, dari pinggiran tebing di jalan setapak naik-turun bukit antara Baron-Kukup itu, kita dapat melihat pemandangan pantai dan laut dari ketinggian, juga tebaran karang-karang yang tak akan terlihat kalau tidak naik ke sana. Saat itu, aku merasa seolah-olah kami tidak sedang berada di Indonesia, melainkan di negeri antah-berantah entah di mana. Benar-benar menakjubkan. Satu yang sangat aku sesalkan, foto-foto yang kami ambil, tidak ada yang bisa menyamai, sepersepuluh saja, keajaiban yang dilihat langsung oleh mata kami. Memang ya, buatan manusia, seperti apapun, tidak akan pernah mampu menyamai ciptaan Tuhan.</p>
<p>Kukup. Dari kejauhan, Kukup terlihat seperti rawa yang berbatasan dengan laut, karena sebelum laut, ada hamparan hijau-kecoklatan yang membentang. Begitu sampai di sana, kami baru sadar: itu rumput laut! Oh, baru sekali ini aku melihat ‘padang’ rumput laut seperti ini. Rumput laut itu terasa kenyal, seperti jeli, dan begitu ditarik, terasa seperti karet. Di Pantai Kukup, banyak penduduk sekitar sana yang menambang &#8211;entah apa istilah tepatnya&#8211; rumput laut tersebut. Juga ada beberapa orang yang bersiaga dengan pancing dan jala, bukan untuk mengambil rumput laut tentunya.</p>
<p>Dan momen itu bernama shalat. Di atas karang, diiringi desau angin dan deburan ombak, kami menjamak shalat Dzuhur dan Ashar. Menentukan kiblat dari melihat arah matahari yang mulai condong ke barat. Terasa begitu larut, menyatu dengan alam.</p>
<p>Kembali ke Baron, kembali melewati jalan tempat pantai terlihat begitu menakjubkan itu. Meski sudah berkali-kali, rasanya mata ini tak bosan-bosan memandang. Terlebih, karena hari mulai senja, pantulan cahaya matahari yang hampir terbenam membuat segalanya lebih mengagumkan.</p>
<p>Menuju tempat parkir bus, kami terperangah. Tidak ada satupun angkudes di sana. Bertanya kepada seorang laki-laki yang sedang mencuci mobil, dan dijawab dengan: “Wah, kendaraan umum di sini cuma sampe jam 3, dek.” Aku melirik jam dan mendapati, jam lima kurang seperempat. Bagus sekali.</p>
<p>Kami terdiam, mencoba menjernihkan pikiran, memikirkan beberapa alternatif jalan keluar. Seorang tukang ojek menawari kami ojek sampai terminal Wonosari, berdua delapan puluh ribu rupiah. Gila bener, memang tampang lusuh seperti kami dikira mau membayar semahal itu?! Lagipula, belum tentu ketika sampai di terminal, masih ada bus yang ke arah Jogja. Saat itulah, sebuah titik terang melintas di hadapan kami. Satu keluarga kecil: ibu, ayah, dan seorang anak kecil, berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di hadapan kami. Mobil itu masih muat untuk ditambah kami berdua.</p>
<p>“Gimana nih, mau nebeng aja?”<br />
“Mmm… gimana ya? Berani nggak bilangnya?”<br />
“Mmm…”<br />
“Mmm…”<br />
Maju-mundur-maju-mundur-ma</p>
<div>ju-mundur.</p>
<p>Sebentar lagi mobil itu akan berjalan pergi, dan kesempatan kami akan berlalu. Tiba-tiba, aku teringat pelajaran utama yang kudapat saat berjalan-jalan ke Kaliurang: kesempatan tidak akan datang dua kali. Dan aku tak ingin menyesal karena kehilangan kesempatan lagi. Ah ya sudah, nekat saja!</p>
<p>Maka dimulailah episode menahan gengsi, menebalkan muka itu.<br />
“Mmm… Mas, maaf, mau pulang ke arah mana ya?”<br />
“Ke Jogja.”<br />
“Oh ke Jogja. Mmm.. kita ketinggalan bus nih, mau ke Jogja juga. Mmm&#8230; kalau mau ikut numpang boleh nggak?”<br />
“Hm?” Laki-laki itu terdiam sejenak. “Tanya nyonya besar.”<br />
Maka kami mengulangi kalimat yang sama pada sang nyonya.<br />
“Oh boleh-boleh, ayo naik.” Jawaban itu membuat kami lega seketika. Kami tidak jadi bermalam di Pantai Baron!</p>
<p>Meski keberadaan anak kecil itu membuatku sedikit tenang, tetapi rasa was-was tetap ada. Bagaimana kalau kami diculik? Bagaimana kalau mereka ternyata buronan? Dan berbagai bagaimana horor lainnya. Karena itu, aku berusaha untuk tidak lengah sedikit pun, betul-betul memperhatikan jalan, dan bersiap membuka kunci pintu sampingku apabila keadaan memaksa. Untuk berjaga-jaga, aku menghafal nomor polisi mobil itu dan mengirimkannya sebagai SMS pada seorang teman, dengan sedikit catatan: kalau aku tidak kembali malam ini, tolong segera hubungi polisi dan laporkan plat nomor mobil ini. Serasa di cerita-cerita detektif.</p>
<p>Syukurlah, pikiran-pikiran hororku itu tidak menjadi kenyataan, dan kami sampai di Jogja dengan aman dan selamat. Sepanjang perjalanan, kami berbincang ringan dengan keluarga itu. Satu ketika, sang bapak bertanya,<br />
“Udah berapa tahun di Jogja?”<br />
“Baru semester 1.”<br />
“Semester 1 itu udah berapa bulan berarti?”<br />
“Mmm… belum nyampe tiga bulan.”<br />
“Belum tiga bulan udah berani jalan sendiri sampe Baron? Ckckck… nekat!”<br />
“Kalau aku jadi kalian sih, aku udah nangis kali…” sambung sang ibu muda.<br />
Dan kami hanya nyengir kuda.</p>
<p>Begitulah. Perjalanan ini memang perjalanan nekat. Didasari dengan kenekatan, penuh hal-hal nekat, dan diakhiri dengan kenekatan pula. Tapi, nekat itu, bagian dari hidup kan?</p>
</div>
<div>P.s: foto-foto selengkapnya bisa dilihat <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2020976&amp;id=1246894242&amp;l=d38c95159e">di sini</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=131&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2009/10/13/perjalanan-penuh-nekat-baron-kukup-tempat-gunung-dan-laut-bertemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sabilbul.files.wordpress.com/2009/10/dsc07850.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Perjalanan, dan Pergerakan</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/24/tentang-perjalanan-dan-pergerakan/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/24/tentang-perjalanan-dan-pergerakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 13:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bergerak]]></category>
		<category><![CDATA[imam syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan Jik mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang Singa jika tak tinggalkan sarang tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=129&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman<br />
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang<br />
Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan<br />
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang</p>
<p>Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan<br />
Jik mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang</p>
<p>Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa<br />
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran</p>
<p>Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam<br />
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang</p>
<p>Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang<br />
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa saat masih di dalam hutan</p>
<p style="text-align:right;">-Imam Syafi’i-</p>
<p style="text-align:right;">dikutip dari buku Negeri 5 Menara, dengan sedikit perubahan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=129&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/24/tentang-perjalanan-dan-pergerakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa yang Harus Didahulukan?</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/11/siapa-yang-harus-didahulukan/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/11/siapa-yang-harus-didahulukan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 00:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[note FB]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Ada cerita bagus nih, dari note di Facebook seorang teman. *** Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab: &#8220;Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=127&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada cerita bagus nih, dari note di Facebook seorang teman.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab:</p>
<p>&#8220;Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 buah bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat. Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian bis satu-satunya di daerah itu. Di perhentian bis itu, Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan bis:<br />
* seorang nenek tua yang sekarat<br />
* seorang dokter yang pernah menyelematkan hidup Anda sebelumnya<br />
* seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda<br />
temukan.</p>
<p>Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk membonceng Anda. Siapakah yang akan Anda ajak? Dan, jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu!&#8221;</p>
<p>Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:<br />
*Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat Jika tidak segera ditolong akan meninggal. Namun, kalau dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup ke depannya masih panjang.</p>
<p>*Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya. api, kalau dipikir, kalau sekadar membalas budi bisa lain waktu kan? Namun, kita tidak pernah tahu kapan kita akan mendapatkan kesempatan itu lagi.</p>
<p>*Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan, impian Anda akan kandas selamanya. Jadi yang mana yang Anda pilih?</p>
<p>Dari sekitar 2000 orang pelamar, hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat:</p>
<p><span id="more-127"></span>&#8220;Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua yang sedang sekarat tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal di sana dengan sang idaman hati saya untuk menunggu ada yang kembali menolong kami.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">
Ya, jawaban di atas adalah jawaban yang terbaik bukan? Tapi, kenapa sebagian besar hal tersebut tidak kita pikirkan sebelumnya? Apakah karena kita terbiasa dengan tidak mau untuk melepas apa yang sudah kita dapatkan di tangan dengan susah payah? Dan, bahkan berusaha meraih sebanyak-banyaknya?</p>
<p>Terkadang&#8230;, dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki, melepaskan kekeraskepalaan kita, mengakui segala keterbatasan yang kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk sesuatu yang lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=127&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2009/09/11/siapa-yang-harus-didahulukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamus &#8216;Gila&#8217; :D</title>
		<link>http://sabilbul.wordpress.com/2009/08/29/kamus-gila-d/</link>
		<comments>http://sabilbul.wordpress.com/2009/08/29/kamus-gila-d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 00:29:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sabilbul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[banyol]]></category>
		<category><![CDATA[kamus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sabilbul.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Setelah entah berapa bulan (eh, cuma sebulanan deng, cuma berasa lamaaa banget~) blog ini ditelantarkan, akhirnya saya mem-post sesuatu juga. Hoho&#8230; Beberapa vocab dari kamus &#8216;gila&#8217; hasil belajar di LIA (Les Inggris Asal) :p Just for fun yaa&#8230; - Government bonds = Sanak familinya James Bond yang kerja di BUMN - Teleconversation = Pembicaraan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=120&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah entah berapa bulan (eh, cuma sebulanan deng, cuma berasa lamaaa banget~) blog ini ditelantarkan, akhirnya saya mem-post sesuatu juga. Hoho&#8230;</p>
<p>Beberapa vocab dari kamus &#8216;gila&#8217; hasil belajar di LIA (Les Inggris Asal) :p<br />
Just for fun yaa&#8230;</p>
<p>- Government bonds = Sanak familinya James Bond yang kerja di BUMN</p>
<p>- Teleconversation = Pembicaraan yang bertele-tele</p>
<p>- 4 wheel drive = Kendaraan beroda Empat</p>
<p>- Brain Storm = Geger Otak</p>
<p>- Duty Free = Pengangguran</p>
<p><span id="more-120"></span>- Marketing Management = PD Pasar Jaya</p>
<p>- Water Proof = Pawang hujan</p>
<p>- Walk in Interview = Wawancara di jalan</p>
<p>- Undercover police = Polisi tidur</p>
<p>- Golden Shake hand = mas kawin</p>
<p>- General manager = Ajudan Jenderal, biasanya berpangkat kopral</p>
<p>- Parent Company = Perusahaan bokap gue</p>
<p>- Background = halaman belakang rumah</p>
<p>- Lip Service = Perawatan bibir<br />
- Understanding = Yang bawah udah berdiri</p>
<p>- Natural gas = Kentut</p>
<p>- Outgoing personality = biang gosip, mulut cablak, ember bocor.</p>
<p>- Outlook express = Curi-curi pandang</p>
<p>- Rush hour = Jam yang kecepatan</p>
<p>- Search and Rescue = Siapa cepat dia dapat.</p>
<p>- Self service = egois</p>
<p>- In house training = olahraga didalam rumah, biasanya karena diluar hujan.</p>
<p>- Umbrella Organisation = pabrik payung</p>
<p>- Walk out = Cari angin</p>
<p>- Wall Street = Jalan Buntu</p>
<p>- Word processing = tel-mi</p>
<p>- Yellow pages = kertas pembungkus belanjaan tukang sayur</p>
<p>- Wall paper = gubuk berdinding kardus</p>
<p>- Room boy = Anak Rumahan</p>
<p>- Office boy = ANAK KANTORAN !!!</p>
<p>- Hand out = tangan keluar</p>
<p>- French Fries = Orang PERANCIS yang sedang berjemur</p>
<p>- Barber shop = toko peralatan angkat berat</p>
<p>- Black list = Buronon Afrika</p>
<p>- Brotherhood = Saudaranya Robin Hood</p>
<p>- Buloggate = penjaga gerbang kantor Bulog</p>
<p>- Main Respon = berbain kata-kata</p>
<p>- Export Quality = TKI dan WTS</p>
<p>Hihi&#8230; Ada yang mau nambahin? Copas dari <a href="http://sillystupidlife.com/2009/08/26/hasil-les-bahasa-inggris-saya/#comment-14480">sini</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sabilbul.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sabilbul.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sabilbul.wordpress.com&amp;blog=6463732&amp;post=120&amp;subd=sabilbul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sabilbul.wordpress.com/2009/08/29/kamus-gila-d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">sabilbul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
