Kenapa kau… bisa begitu bahagia?
Karena… seburuk apapun, aku memutuskan untuk mencintai hidupku apa adanya.
Andai aku tak pernah tahu akan hal itu.
Apa kau yakin, dengan begitu hidupmu akan lebih baik?
Ah, aku lelah.
Memang apa yang telah kau lakukan?
Izinkan aku menghilang sejenak.
Silakan. Selalu akan ada yang bersedia menggantikan posisimu. Tapi kau, akankah ada yang bersedia memberimu kesempatan lagi?
Belum pernah aku begitu membenci seseorang sampai seperti ini sebelumnya.
Ah kau, memangnya, tentang benci, kau tahu apa?
Kenapa kau bersedia tetap berada di balik bayang-bayang?
Karena memberikan yang terbaik, bukan berarti harus menjadi yang ’terbaik’, kan?
Karena mutiara, bahkan di dalam lumpur, tetaplah mutiara…
Yogyakarta,
10 Maret 2010
00.10
